Rasanya saat ini bukan perkara yang sulit untuk mengunjungi whale shark, betul gak?
Begitu buka internet maka berbagai artikel, blog, hingga vlog yang berisikan informasi cara menuju lokasi, moment terbaik mengunjungi, biaya yang diperlukan, hingga travel agent yang menyediakan paket untuk melihat whale shark bisa ditemui.

Tetapi berbeda ketika saya mengunjungi whale shark di tahun 2015 karena untuk mendapatkan informasi saat itu sangat sulit.


2 bulan sebelum keberangkatan tepatnya setelah seluruh itinerary yang saya buat untuk trip ke Kalimantan Timur (Labuan Cermin dan Kepulauan Derawan) rampung disusun dan sudah melakukan pembayaran sewa mobil, boat, penginapan, dll. 

"Git, di Kalimantan Timur ada whale shark loh. Berhubung kamu ke Kalimantan Timur mendingan coba samperin aja. Lokasi nya di daerah Talisayan tapi kurang tau dimananya" Kata seorang teman blogger saya.



Sebenarnya saya enggak tau apa itu whale shark tapi setelah saya cari gambarnya baru lah saya tau seperti apa bentuk whale shark itu. Karena tertarik akhirnya saya melakukan pencarian di internet tapi sayangnya saya enggak menemukan petunjuk apapun.
Pegangan saya saat itu adalah whale shark berada di Talisayan, so saya membuka maps dan menelusuri jalur secara manual. Bukan main senangnya ternyata Talisayan searah dengan jalur Labuan Cermin jadinya saya enggak perlu mengubah itinerary terlalu banyak. Dengan penuh kemantaban hati saya langsung memasukkan Talisayan ke itinerary meskipun enggak tau bagaimana cara melihat whale shark. (yang penting datang dulu ;p)

Perjalanan menuju Talisayan memakan waktu sekitar +/- 5 jam dari Berau menggunakan jalur darat. 
"Pak, sebelum ke Labuan Cermin, kita mampir dulu yang ke Talisayan" Kata Saya kepada sopir
"Saya kurang tau daerahnya mas, posisi lokasinya hanya mengira-ngira saja. Emank mau ngapain disana? karena saya enggak pernah mendengar ada wisatawan yang kesana" jawab sopir
Setelah saya menjelaskan baru lah kami berangkat dibantu dengan maps dan sesekali bertanya warga.


Setelah hampir 5 jam perjalanan melintasi pegunungan dan perkebunan yang mayoritas jalannya rusak dan juga berliku sampai-sampai membuat kami mual akhirnya tibalah kami di sebuah desa. Setelah di telusuri ternyata itu adalah desa Talisayan. WOW, bukan main senangnya akhirnya saya bisa tiba di Talisayan tapiiiiii sayangnya perjuangan saya belum selesai karena saya harus mencari tau cara melihat whale shark.

Beberapa warga yang saya temui memasang ekspresi muka bingung ketika saya bertanya bagaimana melihat whale shark. Ohya sebelum lebih jauh, Talisayan itu berada di pesisir laut dan sepenglihatan saya sih enggak ada garis pantai atau mungkin ada tapi saya enggak melihat. Jadi di antara rumah warga sudah terdapat pelabuhan kecil untuk para nelayan melaut.

Okay balik lagi...
Agak heran sebenarnya, kok warga yang mayoritas berprofesi sebagaian nelayan itu tidak tau tentang keberadaan Whale Shark. Sebenarnya saat itu saya sudah pesimis, dan berencana melanjutkan perjalanan ke Labuan Cermin. 

Semesta berkata lain, tiba-tiba ada seorang nelayan mendatangi saya "Mas, mau liat ikan besar ya? saya tau tempatnya". Barulah saya ketahui bahwa nelayan disana tidak tau istilah whale shark tetapi mereka menyebutnya ikan besar.
"Naik perahu saya aja pak, tapi besok subuh baru bisa berangkat, karena ikannya keluar saat pagi hari di sekitar bagan" 

Setelah deal harga sewa perahu dengan si bapak nelayan, selanjutnya saya mencari penginapan diantara rumah warga. Jangan berharap ada hotel disini! karena ini bukan daerah wisata. Saat itu saya harus berjuang bertanya dari rumah warga ke warga apakah mereka menyewakan kamar. Hingga akhirnya saya mendapatkan sebuah rumah yang memang mempunyai beberapa kamar untuk disewakan.

Keesokan harinya pukul 05.00 AM
Dengan semangat 45 saya menuju dermaga yang jaraknya hanya sekitar 3-5menit dari penginapan (jalan kaki).
Perahu yang kami gunakan adalah perahu tradisional kecil yang biasa digunakan nelayan untuk menangkap ikan. Awalnya sih saya agak sangsi apakah aman melintasi lautan dengan perahu ini tapi saya meyakinkan diri untuk percaya kepada si bapak nelayan.

Gelapnya langit kala itu membuat saya terpukau karena saya merasakan langit begitu dekat dengan saya. Langit yang bertakhtakan gugusan bintang yang super buanyakkk dan terlihat begitu jelas dan memenuhi langit. Saking asiknya menikmati pemandangan langit dan terpaan angin laut tanpa disadari akhirnya tiba di bagan.

Bagan semacam media berukuran cukup besar untuk menangkap binatang laut dengan menggunakan sistem jaring angkat yang biasanya di letakkan di tengah laut beberapa hari. 

Biasanya nelayan akan memilah hasil tangkapan mereka di Bagan. Beberapa tangkapan yang tidak segar akan mereka buang ke laut, nah Moment nelayan membuang hasil tangkapan itu menjadi waktunya whale shark  "sarapan gratis". Itu sebabnya nelayan yang menawarkan perahunya kepada kami menyarankan kami untuk berangkat saat subuh karena kalau telat mereka (whale shark) tidak akan naik ke permukaan laut soalnya.


Setelah perahu berlabuh di sekitar bagan, interaksi antar nelayan terjadi untuk menanyakan keberadaan whale shark. Tapi karena masih gelap akhirnya kami masih harus menunggu sebentar lagi.
Dari perahu saya bisa melihat kesibukan para nelayan yang sedang memilah ikan dan sesekali mereka menawarkan untuk naik ke bagan dan melihat hasil tangkapan. Beberapa ikan di perlihatkan bahkan ada sotong, baru kali ini saya melihat sotong dan ternyata ukurannya besar juga. Maklum anak kota jadi agak norak ;p

Selain itu saya bersyukur banget karena tiba di bagan saat masih gelap, tau kenapa?
soalnya saya bisa melihat plankton menyala berwarna biru dalam jumlah yang cukup banyak atau nama keren nya adalah Bioluminescen Phytoplankton. Itu dia yang bikin saya terkagum-kagum, speechless. Dulu ingin banget ke maldives supaya bisa melihat eh ternyata enggak perlu jauh-jauh kesana.

Penantian panjang menunggu matahari "beranjak dari tidurnya" pun tiba.
Hmmm, tapi mana ya whale sharknya???

sebuah bayangan samar-samar dari bawah laut kian mendekat dan membesar.
Woww.. diluar dugaan ternyata whale shark begitu besar padahal kata nelayan whale shark yang kami lihat ini masih yang berukuran kecil. 
saya rasa jika whale shark menabrakan dirinya pasti bisa membuat perahu nelayan yang kami naiki terbalik.

Seketika itu nelayan di bagan membuang beberapa ikan yang memang sudah enggak layak di jual.  Kala itu menjadi pertunjukkan gratis bagi kami. Awalnya hanya ada satu lama-kelamaan beberapa whale shark lainnya bermunculan. Terpukau saya saat itu <3
Whale Shark mempunyai mulut yang lebar dan mereka memasukan makanan dengan cara seperti sedang menghisap.

Ada satu penyesalan yang teramat dalam sampai sekarang!!!
Yaitu saya enggak berani berenang dengan whale shark. T.T

Sebenarnya antara takjub dan seram, kembali ke info yang minim jadi enggak tau pendekatan yang baik untuk mendekati whale shark seperti apa. Meskipun beberapa orang mengatakan bahwa jinak tapi saya tetap takut karena Ini pertama kalinya saya bertemu ikan sebesar ini dan saya masih enggak yakin kalau jinak karena namanya saja ada embel-embel shark/hiu (Banyak alasan, padahal sebenarnya mah enggak bisa berenang :p)

Salah satu teman saya memberanikan diri untuk terjun ke laut tapi begitu whale shark mendekat dia langsung panik dan buru-buru naik ke kapal karena ketakutan.
Keceriaan kami pudar ketika adik saya mendapat panggilan alam (baca:BAB). Padahal baru sebentar bertemu whale shark akhirnya mau enggak mau kami harus buru-buru pulang.

Ternyata pengalaman berjuang menemukan tempat wisata ternyata ada kebanggaan tersendiri. Berasa kayak anak petualang banget ;p

Ohya, Infonya saat ini keberadaan whale shark sudah bisa kita temui di beberapa tempat di Indonesia selain Talisayan, yaitu di Gorontalo, dan Papua.



Note untuk yang mau melakukan perjalanan ke tempat ini :
– Dengan menggunakan jalur darat, kalian bisa memulainya dari Berau sekitar 5jam perjalanan menuju Talisayan.
– Jangan lupa minum antimo bagi yang mabok, soalnya perjalanan nya berkelok-kelok dan gasrak-gusruk alias rusak. Di tambah banyak truck besar jadi ada kemungkinan sopirnya suka nyelip.

- Sebenarnya sekarang sudah enggak perlu ribet-ribet menggunakan jalur darat karena sudah mulai banyak operator travel yang menyediakan perjalanan menuju Talisayan menggunakan jalur laut dengan boat dari Derawan.
– Jaga jarak saat berenang dengan whale shark, INGAT jangan mengganggu, soalnya kasihan kalo mereka sampai merasa terusik.
– Jangan menyentuh whale shark karena mereka sensitive
Budget Per Juni 2015 :
– Perahu Nelayan : Rp 600.000/Boat
– Penginapan : RP 530.000/ 3 Kamar
– Mobil : Rp 2.000.000/ Pulang Pergi Berau Biduk-Biduk (2 hari)
TAKE NOTHING BUT PICTURES
LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINTS
KILL NOTHING BUT TIME

ENJOY THE TRIP !!! ^^